Navigasi Lengkap

⬅ KEMBALI

Uncategorized

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Pendapat NAYLA IZZA BERU SINUHAJI SATUAN MAHASISWA ELANG3JAMBALANG Pertanyaan sensitif, tapi penting dibahas jujur ya 🙏 Dan mohon maaf bukan menjelekkan institusi POLRI Kurang profesional. itu kesannya umum. Di Polri ada 440rb+ personil, ada yg bagus banget, ada yg bermasalah....

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

Pendapat NAYLA IZZA BERU SINUHAJI SATUAN MAHASISWA ELANG3JAMBALANG
Pertanyaan sensitif, tapi penting dibahas jujur ya 🙏 Dan mohon maaf bukan menjelekkan institusi POLRI

Kurang profesional. itu kesannya umum. Di Polri ada 440rb+ personil, ada yg bagus banget, ada yg bermasalah. Tapi memang ada beberapa faktor yg sering disorot publik kenapa citra penyidik dianggap kurang profesional:

. FAKTOR SISTEM & BEBAN KERJA
1. Jumlah perkara vs jumlah penyidik
1 penyidik bisa pegang 30-50 kasus sekaligus. Akhirnya kejar target SP2HP, bukan kejar kualitas.
2. SPDP & 24 jam
Tekanan wajib selesaikan dalam waktu tertentu bikin penyidik main “damai” atau “P21 cepat” biar nggak numpuk.
3. Mutasi cepat
Baru paham kasus, udah pindah. Berkas nggak tuntas.

2. FAKTOR KOMPETENSI & PELATIHAN*
1. *Penyidik bukan lulusan hukum semua*
Banyak yg dari Diktuk, belum paham KUHAP, UU ITE, TPPU secara mendalam.
2. Minim pelatihan forensik digital
Kasus sekarang banyak HP, e-wallet, medsos. Tapi alat + SDM forensik masih terbatas di Polda/Polres.
3. Budaya tembak tempat
Masih ada yg mengandalkan pengakuan, bukan scientific crime investigation.

3. FAKTOR INTEGRITAS & INTERVENSI*
1. *Intervensi eksternal*
Tekanan dari “orang kuat”, pengacara, LSM, media, bahkan atasan. Akhirnya penyidikan nggak independen.
2. Transaksional
Ini yg paling merusak. Ada oknum yg minta “biaya operasional”. Masyarakat jadi trauma.
3. Tidak ada pengawasan melekat*
Propam + Kompolnas + Irwasda ada, tapi laporan masyarakat sering mentok.

4. FAKTOR SARPRAS & ANGGARAN*
1. BOP minim
Buat olah TKP, panggil saksi, labfor. Akhirnya penyidik patungan atau minta ke pelapor.
2. *Ruang pemeriksaan tidak layak
Nggak ada CCTV, nggak ada lawyer room. Rawan salah prosedur.

UPAYA PERBAIKAN YANG SUDAH JALAN
Polri sendiri sadar. Sekarang ada:
1. SP2HP wajib 1 bulan sekali* – biar transparan ke pelapor
2. *Puslabfor & Inafis ditingkatkan* – buat bukti saintifik
3. *E-Penyidikan & E-Tilang* – meminimalisir kontak langsung
4. *Pendidikan Penyidik di Lemdiklat* – wajib sertifikasi
5. *Whistleblower system 110 & Dumas Presisi*

*KESIMPULAN*
Bukan semua penyidik kurang profesional. Banyak yg kerja 24 jam, TKP banjir, tetap profesional.
Tapi masalahnya: *1 oknum viral = 1 institusi kena*. Ditambah sistem, beban, dan anggaran yg belum ideal.

Kalau kamu punya kasus spesifik di penanganannya kurang pas, kamu bisa:
1. *Minta SP2HP* – hak kamu tiap 1 bulan
2. *Lapor ke Propam/Wasidik* – kalau ada penyimpangan prosedur
3. *Pengaduan ke Kompolnas 0811-9900-110*